Skip to main content

Posts

Belum Waktunya untuk Pergi

Aku terbangun, saat matahari masih malu untuk berdiri. Ku hela nafas, aroma yang khas tercium dari beton yang sudah berlumut serta besi yang berkarat. Disini sangat dingin, tidak ada teman, tidak ada makanan, tidak ada minuman, mungkin hanya ada bekas darah yang tercecer. Suram, sangat-sangat suram. Disini terdengar sedikit suara, namun sangat mencekam. Terkadang ada suara teriakan yang keluar dari lorong itu, membuatku menjadi takut. Aku tidak mau mati seperti ini. Aku tidak mau mati di tempat antah-berantah seperti ini. Aku ingin pergi. Pergi ke tempat itu lagi, tempat yang hangat dan nyaman. Namun apa daya, Dia tidak memperbolehkan aku pergi bersamanya. Aku sempat pamit kepada keluarga dan sahabatku, lalu aku sapa dan aku peluk mereka semua, seakan-akan ini merupakan momen aku Bersama mereka untuk terakhir kalinya. “Aku akan kembali lagi, doakan aku” ucap aku kepada keluarga dan sahabatku. Semuanya menangisi kepergianku, akupun merasa bahwa aku memang sudah tidak lama ...
Recent posts

Tarsan Tragis

Tarsan terjatuh terhempas tertabrak truk tanah. Tangannya terkilir, tulang tengkoraknya terbuai. Tengkoraknya terus tertimpa tertindih truk tanah. Truk terbesar terberat tersial. Truknya terbakar. Tarsan tertanam tenteram tertimpa truk tanah. Tampaknya Tarsan terlihat telah tamat. Tapi Tarsan tidak tamat, Tarsan ternyata tertimbun terpendam tanah. Tamatnya Tarsan terlihat tragis.