Skip to main content

Belum Waktunya untuk Pergi




Aku terbangun, saat matahari masih malu untuk berdiri. Ku hela nafas, aroma yang khas tercium dari beton yang sudah berlumut serta besi yang berkarat. Disini sangat dingin, tidak ada teman, tidak ada makanan, tidak ada minuman, mungkin hanya ada bekas darah yang tercecer. Suram, sangat-sangat suram. Disini terdengar sedikit suara, namun sangat mencekam. Terkadang ada suara teriakan yang keluar dari lorong itu, membuatku menjadi takut. Aku tidak mau mati seperti ini. Aku tidak mau mati di tempat antah-berantah seperti ini.
Aku ingin pergi. Pergi ke tempat itu lagi, tempat yang hangat dan nyaman. Namun apa daya, Dia tidak memperbolehkan aku pergi bersamanya.
Aku sempat pamit kepada keluarga dan sahabatku, lalu aku sapa dan aku peluk mereka semua, seakan-akan ini merupakan momen aku Bersama mereka untuk terakhir kalinya.
“Aku akan kembali lagi, doakan aku” ucap aku kepada keluarga dan sahabatku.
Semuanya menangisi kepergianku, akupun merasa bahwa aku memang sudah tidak lama lagi ada disini. Namun, aku optimis bahwa aku akan bersama mereka lagi nantinya. Akupun pergi menunaikan tugasku.
Diperjalanan aku teringat, salah satu ucapan seorang Kyai yang mahsyur dan karismatik. Beliau merupakan pencetus salah satu ormas islam terbesar di Indonesia, atau bahkan di dunia.
“Perjuangan kita adalah jihad fi sabilillah, siapa yang mati akan masuk surga dan berkumpul bersama para syuhada kelak”
Seketika aku buang segala beban di pikiranku, dan kupegang erat laras panjangku ini. “aku yakin kita akan terbebas dari semua ini, aku bersumpah demi Allah, aku akan berjuang” gumamku sendiri diatas kuda besi ini.
            Jancuk, londo-londo kae. Wani meneh tekan mrene. Yen wes teko, tak antem pancung sisan ndase
            Sabar’o mas, karo aku yo, bareng-bareng gawe sate. Sate londo” sahutku meledek.
            Woalah piye to mas. Ojo dipangan to, babi ae ora oleh dipangan, lha iki menungso mbok pangan, raono daing opo piye sampeyan?” tambah salah seorang di sebelahku.
            Lha, oleh kok, mas Pardi wes mangan rung piring kae” balasku kembali mengejek.
            Aku yo oleh mas, aku yo ra tau kata haram kok. Sing ono yo panganono hahahahah” sahut mas Pardi sambal menepuk pundakku.
Bercandaan itu kami anggap sebagai pemendam rasa takut dalam pikiran kami. Dengan asyiknya kami bersenda gurau seakan-akan lupa bahwa kami berada tepat beberapa Langkah dengan kematian.
            “Kar, anak istrimu piye? Sehat?” tanya seorang petinggi kepadaku. Aku kenal dia sebelumnya dan aku pergi karena bujukan darinya.
            “Alhamdulillah, rung sasi meneh bojoku lahiran mas, njendolane wes guedhe” jawabku sambal tersenyum.
            “Syukur alhamdulillah, wes pamit karo bojomu to?” lanjutnya.
            “Wes mas, aku yo wes njaluk dungo” sahutku.
            mugo-mugo kabeh diparingi slamet lan barokah karo Gusti Allah
            Aamiin mas” jawabku.
Percakapan ini rasanya membuat rasa takutku hadir kembali. Aku rindu istriku, anakku, ibuku, dan keluargaku. Namun nasib tinggalah nasib. Aku yang mengawali perjalanan ini, aku pula yang akan mengakhiri ini semua.
            Kami semakin dekat. Terdengar suara gemuruh riuh di depan sana. Penduduk kota ramai berhamburan menghindari lokasi tempat adu peluru itu terjadi. Bunyi mesin terbang, senapan, dan teriakan orang-orang menjadi pertanda bahwa, kita masih ada untuk terus melawan bahkan hingga kaki ini tak mampu untuk berjalan.
            Muduun” teriak salah seorang petinggi.
Aku sontak kaget, lalu dengan sigap akupun turun. Dari tubuhku keluar keringat dingin, bahkan air mata. Ingin rasanya aku di rumah dan berkumpul bersama. Namun, saat aku melihat salah seorang yang membopong temannya yang keluar darah dari tubuhnya, aku berpikir bahwa, jika aku masih di rumah dan hanya diam saja, mungkin keluargaku bakal berakhir lebih buruk lagi. Mereka sangat amat kejam, aku benci mereka. Aku ingin bunuh, bunuh, dan bunuh….!!!
            Kami berlari dengan gagah ke neraka tersebut, demi merebut apa yang sudah menjadi hak kami untuk hidup. Ku angkat besi apiku, lalu ku tarik pelatuknya. Satu per satu besi panas yang keluar dari laras panjangku mengenai pasukan putih tersebut, sambil ku berteriak “Allahu akbar…!!! Allahu Akbar…!!!”. Aku tahu bahwa, kami semua bersama tuhan. Kehedak kami sudah direstui oleh Tuhan.
Darah banyak bercucuran dimana-mana. Bau anyir serta mesiu menjadi satu. Entah kapan ini akan berakhir. Suara senapan yang keras, menutupi telingaku serasa aku manusia setengah tuli. Aku tidak bisa mengeluh, tidak bisa mundur, dan hanya bisa maju. Itu satu satunya cara agar membuat londo bajingan itu hengkang dari negeri kami.
Aaaaaaaaaah, sikilku…!!! londo jancuook
Teriak seorang di sebelahku, sontak aku bergegas menghampirinya yang hamper terkapar lemas. Aku mencoba untuk membopongnya menjauhi medan perang. Tanpa sepengetahuan kami, datang satu kapal terbang. Lalu dijatuhkannya sebuah benda berbentuk bola.
Kar..! Karmadi…!!, mundur’o mundur” teriak seseorang kepadaku.
Sek to mas, iki lho tulungen. Ra iso mlaku” sambal ku menunjuk kaki Maman yang tertembak.
Tinggalono, wes..!! arep modar sampeyan hah?”
Cok, konco dewe mbok tinggalno, edan.!”
“wes Kar, jo pikiren aku. Mundur’o kono, aku wes rapopo ngene ae” jawab Maman.
Ra iso man, ra iso..!!” jawabku keras padanya.
Aku tetap teguh dengan pendirianku, tidak ada kawanku yang mati malam ini. Aku tetap berusaha membawa Maman walaupun dia menyuruhku untuk meninggalkannya.
Saat aku hampir menuju sisi aman, tanpa terduga, ledakan sangat yang hebat menghujam sisi kananku. Aku dan Maman terpental jauh hingga tak sadarkan diri.
Akupun terbangun, matahari sudah tak nampak. Aku masih tergeletak lemas di jalanan. Kulihat di samping trotoar, hanya badan Maman yang tergeletak penuh darah disana. Disaat kondisi cukup aman, ku hampiri badannya sambil tertatih-tatih
Man, tangi’o wes aman iki
Man.., Tangi’o man
Man, Maman…!!!! Ndang tangi…!!!
Aku terus menerus teriak memanggil namanya namun tak kunjung dijawabnya. Sampai akhirnya teriakanku didengar oleh seseorang. Entah dimana dia berada. Yang aku tahu pasti, cara dia berbicara berbeda denganku.
            Benar saja, seorang belanda melihatku dan berlari mendatangiku. Aku kaget dan mencoba untuk berlari.
“Dhuaar..!!”
Satu peluru bersarang di perutku, dengan rasa sakit, kucoba terus untuk melarikan diri. Aku sontak berdoa dalam hati,
            “Ya Allah selamatkanlah aku, lindungilah aku, aku masih tidak mau mati”
Orang belanda itupun tidak menembakku lagi, dan aku pikir pelurunya sudah habis. Lalu dia menghampiriku dan menjambak rambutku. dia berbicara dengan kasar kepadaku. Aku tidak tahu apa yang ia katakan. Kurasa ia bertanya “Siapa kamu? Dimana teman-temanmu?”. Kepalaku hanya bergeleng-geleng tidak mengerti sambil aku memohon belaskasihan. Namun ia tetap menyikasaku, menamparku, menginjak kakiku, dan memukul kepalaku.
            “Allah, Allah, Allah”
Hanya kata-kata itu yang dapat aku ucapkan. Aku sudah pasrah, aku mungkin akan mati. Belanda itupun Kembali membentakku dan memukul kepalaku dengan keras sekali hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
….
Aku melihat sesosok putih, sangat silau sekali hinga mataku sedikit menyipit. Dia menghampiriku dan berbicara denganku.
“Siapa kamu? Kenapa kamu mendatangiku” tanyaku kepadanya.
“Kamu tidak berhak tau” jawabnya dengan halus.
“Apakah kamu yang mencabut nyawaku? Apa aku sudah mati?”
“Kau masih hidup, tenanglah kau akan kembali” Kembali dia menjelaskan.
“Lalu dimana aku ini? Mengapa aku disini? Tanyaku penasaran.
“Kamu berada di tempat yang aman, jangan khawatir”
Belum selesai aku bertanya kepadanya, tiba-tiba dia pergi menjauhi diriku. Cahaya itupun semakin redup dan kian meredup.
            “Hei, jangan pergi jangan tinggalkan aku sendiri di tempat ini..!!” teriakku saat ia pergi menjauh
            “Kamu belum waktunya untuk pergi bersamaku, tapi aku janji akan membawamu bersamaku”. Jawabnya yang kian menjauh.
            “Jangan pergiii…!!! Aku ikut denganmu..!!” teriakku
Lalu suasana menjadi gelap dan akupun kembali terbangun dengan kondisi luka yang cukup parah di badanku. Akupun menyadari bahwa, aku masih hidup, namun aku terbangun di tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana lokasinya.
            Hanya tembok dan besi disekelilingku ini. Tempat yang dingin dan sunyi, semua orang pasti tidak nyaman bila berada di sini.
Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku masih hidup dan siapa sosok cahaya dalam tidurku itu. Di mimpiku itu aku merasa nyaman, hangat, dan tentram sekali. Ingin rasanya aku menetap disana. Namun, sesosok cahaya itu berkata padaku bahwa ini belum saatnya.
Aku berasumsi bahwa, Dia yang muncul di mimpiku ialah yang namanya sering ku sebut dalam rasa gundah dan senang.

Comments